“Memanusiakan Manusia
Modern”
Oleh
: Loka Vianugra Eksa / XII IPA 4 / 14
Manusia adalah makhluk sosial.
Manusia sangat membutuhkan keberadaan manusia lainnya untuk tetap bertahan
hidup. Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia membutuhkan komunikasi dan
interaksi dengan manusia lain untuk mengutarakan pendapat dan menukar pikiran.
Seiring dengan perkembangan
teknologi, komunikasi antar-manusia menjadi lebih mudah. Mereka tidak harus
bertatap muka untuk berkomunikasi. Cukup dengan handphone dan koneksi internet, orang yang berjarak ribuan
kilometer pun dapat dengan mudahnya menghubungi orang lain. Segalanya menjadi
lebih mudah dengan teknologi modern saat ini.
Pada kenyataannya, teknologi yang
semakin berkembang ini tidak diiringi oleh meningkatnya kualitas komunikasi dan
interaksi antar-manusia. Yang ada malah merosotnya kemampuan berkomunikasi
secara face to face. Orang zaman
sekarang yang ketagihan dengan teknologi, gadget,
dan internet tidak lagi mementingkan interaksi langsung dua arah. Mereka hanya
sibuk sendiri dengan gadget mereka,
hal ini khususnya terjadi di kalangan remaja. Seringkali terlihat di kawasan
publik saat mereka berkumpul, bahwa para remaja ini menghiraukan keberadaan
teman disekitar mereka. Mereka malah asyik bercanda gurau dengan ‘teman maya’
mereka. Yang jauh terasa dekat, yang dekat malah terasa lebih jauh. Yang ada di
layar yang paling disayang, yang di depan mata dibuang-buang. Bukti nyatanya
pun terjadi di asrama SMAN 10 Malang. Banyak yang sibuk bermain handphone saat ada istighosah,
sosialisasi peraturan, maupun sekedar berkumpul. Karena itulah mereka akan
merasakan kesulitan saat mereka dihadapkan secara langsung untuk berinteraksi
dengan lingkungan mereka.
Mengapa manusia malah kehilangan jati
dirinya sebagai makhluk sosial disaat mereka dihadapkan dengan perkembangan
teknologi dan internet seperti saat ini? Menurut saya, hal ini terjadi karena
manusia tidak lagi mementingkan rasa kebersamaan mereka satu dengan yang
lainnya. Manusia lebih memilih untuk menikmati pesatnya perkembangan zaman.
Berfantasi ria di dunia maya, yang jelas sekali bahwa itu ‘maya’. Mungkin
mereka lebih bebas mengekspresikan diri lewat tulisan, maka dari itu kemampuan
menulis para remaja masih berada di atas rata-rata. Namun saat dihadapkan di
kehidupan nyata, mereka yang sudah terbiasa berbicara melalui ketukan jari
terhadap layar itu pun menjadi kikuk, dalam kecakapan berbicara secara
spontanitas ini.
Emily
Drago, salah satu siswa Strategi Komunikasi di Universitas Elon, mengatakan
bahwa “Teknologi secara negatif mempengaruhi komunikasi tatap muka. Orang-orang
menjadi lebih bergantung pada berkomunikasi dengan teman dan keluarga melalui
teknologi dan mengabaikan untuk terlibat secara pribadi, tanpa hambatan oleh
ponsel dan perangkat, bahkan ketika benar-benar di hadapan orang lain.” Jadi
memang banyak yang menganggap bahwa pesatnya perkembangan teknologi dan
internet ini membawa dampak bagi orang-orang sekarang. Dan dampak yang saat ini
dirasakan lebih banyak mengarah ke dampak negatifnya. Manusia menjadi lebih
bergantung terhadap gadget untuk
berkomunikasi, seakan manusia hanya tahu cara menuliskan kata di atas layar
putih, seakan handphone adalah teman
sejati manusia. Namun, hal ini tidak berlaku untuk setiap orang di dunia ini,
masih banyak yang belum bisa menikmati teknologi. Akan tetapi banyak juga orang
yang bisa membentengi diri mereka dari serangan negatif ini. Hanya dibutuhkan
pribadi yang kuat yang masih mau untuk menolak segala kemewahan yang ditawarkan
gadget masa kini, untuk tetap menjadi
manusia selayaknya, yaitu manusia sebagai makhluk sosial.
“Dengan
kemajuan teknologi yang secepat cahaya, manusia berubah dengan cepat, mungkin mustahil
untuk memprediksi masa depan. Namun, semua orang harus menyadari bahwa
interaksi manusia yang dulu dikenal mungkin sudah berubah selamanya.” – Emily Drago. Pada detik ini saja, teknologi dan internet masih dalam proses
pengembangan dan perbaikan. Padahal pada tanggal 15 Februari 1946 silam,
komputer baru pertama kali diciptakan, dan itupun sebesar ruangan. Seiring
dengan berjalannya waktu, komputer menjadi lebih kecil dan lebih pintar. Pada
tahun 1977, PC atau Personal Computer dikenalkan ke
masyarakat. Lalu komputer berkembang menjadi sebuah telepon, lalu menjadi
telepon genggam, atau handphone.
Handphone pertama kali diluncurkan
pada tahun 1973, oleh Martin Cooper. Lalu dengan cepatnya smartphone mulai menguasai pasar perdagangan, setelah dikenalkannya
pada tahun 1992. Diintegrasikan dengan internet, smartphone menjadi kebutuhan tersier yang seakan menjadi kebutuhan
primer. Hal ini menunjukkan betapa cepatnya teknologi dan internet berkembang
dalam beberapa tahun terakhir. Kita tidak bisa memprediksi bagaimana nanti
teknologi mengambil alih dunia kita. Dengan adanya perkembangan alat kounikasi,
pola hidup dan pola pikir manusia ikut berubah. Dahulu, mau tidak mau manusia
harus bertatap muka untuk berkomunikasi. Mereka harus berinteraksi dengan
orang-orang disekitar mereka. Akan tetapi zaman yang modern telah mengubah
segalanya. Maka dari itu cara berkomunikasi orang-orang terdahulu sangat
berbeda dengan sekarang. Sekali lagi, kehidupan saat ini menjadi jauh lebih
mudah dengan adanya teknologi dan internet.
“Kami
telah menunjukkan model apa lagi interaksi tatap muka dapat lakukan," kata
Greenfield. "Interaksi sosial
dibutuhkan untuk mengembangkan keterampilan dalam memahami emosi orang
lain." Tentu saja berkomunikasi secara langsung dan melibatkan diri dengan
orang lain itu sangat berarti. Mereka dapat membaca gerak-gerik lawan
bicaranya. Mereka juga akan dapat merasakah emosi dan perasaan yang diekspresikan
oleh orang lain. Tanpa komunikasi face to
face, manusia tidak akan peka terhadap kesan eksplisit yang diungkapkan
orang. Menurut studi, manusia hanya membutuhkan 7% untuk kemampuan
berbicaranya, sedangkan 93% yang lain adalah memahami emosi, perasaan, dan
gerak-gerik dalam pesan yang disampaikan. Maka dari itu jika hanya layar putih
dari handphone yang ditatap oleh
masyarakat, mereka tidak akan peka lagi terhadap lingkungan sekitar mereka.
Menurut
pendapat saya, teknlogi dan internet tidak perlu terdengar seburuk itu,
semuanya hanya bergantung pada bagaimana setiap orang menyikapi dan
menanggapinya. Semua tergantung pada manusianya, agar mereka tetap menjadi
manusia yang selayaknya. Manusia yang masih memiliki sisi sosialnya yang bisa
berinteraksi dengan manusia lainnya.
Maka dari itu, saya ingin mengajak masyarakat disekitar saya untuk lebih sadar
akan teknologi. Bahwa kita bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin tanpa dijajah
habis-habisan.
Menurut
saya, perlu diadakan sebuah workshop atau sosialisasi besar-besaran untuk
masyarakat, khususnya remaja. Masyarakat butuh disodorkan fakta dan bukti nyata
bagaimana model manusia modern saat ini. Kita benar-benar butuh memanusiakan
manusia modern, agar tidak lupa akan kodratnya sebagai makhluk sosial. Agar komunikasi
tidak lagi menjadi sebuah penghalang dalam berinteraksi sesama manusia.
Jadi,
pada intinya, teknologi yang canggih dan internet yang aksesnya mudah dapat
mempengaruhi cara berinteraksi manusia zaman sekarang. Banyak yang terlahap
olehnya lezatnya handphone ataupun smartphone. Namun kita sebagai makhluk
sosial yang sudah tidak begitu sosial, harus berusaha untuk berinteraksi dengan
orang disekitar kita, agar kembali ke kodratnya. Ngetrend boleh saja, asalkan paham akan waktu dan tempatnya saja.
Mari kita letakkan handphone kita
untuk komunikasi antar-manusia yang lebih baik. Mari kita menyadarkan diri
sendiri dan orang lain, agar tidak terlarut dalam dunia maya. Mari kita
memanusiakan manusia modern, untuk menjadi dunia yang lebih baik.
0 komentar:
Posting Komentar