April 01, 2016

Esai Bahasa Indonesia

“Memanusiakan Manusia Modern”
Oleh : Loka Vianugra Eksa / XII IPA 4 / 14

            Manusia adalah makhluk sosial. Manusia sangat membutuhkan keberadaan manusia lainnya untuk tetap bertahan hidup. Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia membutuhkan komunikasi dan interaksi dengan manusia lain untuk mengutarakan pendapat dan menukar pikiran.
            Seiring dengan perkembangan teknologi, komunikasi antar-manusia menjadi lebih mudah. Mereka tidak harus bertatap muka untuk berkomunikasi. Cukup dengan handphone dan koneksi internet, orang yang berjarak ribuan kilometer pun dapat dengan mudahnya menghubungi orang lain. Segalanya menjadi lebih mudah dengan teknologi modern saat ini.
            Pada kenyataannya, teknologi yang semakin berkembang ini tidak diiringi oleh meningkatnya kualitas komunikasi dan interaksi antar-manusia. Yang ada malah merosotnya kemampuan berkomunikasi secara face to face. Orang zaman sekarang yang ketagihan dengan teknologi, gadget, dan internet tidak lagi mementingkan interaksi langsung dua arah. Mereka hanya sibuk sendiri dengan gadget mereka, hal ini khususnya terjadi di kalangan remaja. Seringkali terlihat di kawasan publik saat mereka berkumpul, bahwa para remaja ini menghiraukan keberadaan teman disekitar mereka. Mereka malah asyik bercanda gurau dengan ‘teman maya’ mereka. Yang jauh terasa dekat, yang dekat malah terasa lebih jauh. Yang ada di layar yang paling disayang, yang di depan mata dibuang-buang. Bukti nyatanya pun terjadi di asrama SMAN 10 Malang. Banyak yang sibuk bermain handphone saat ada istighosah, sosialisasi peraturan, maupun sekedar berkumpul. Karena itulah mereka akan merasakan kesulitan saat mereka dihadapkan secara langsung untuk berinteraksi dengan lingkungan mereka.
            Mengapa manusia malah kehilangan jati dirinya sebagai makhluk sosial disaat mereka dihadapkan dengan perkembangan teknologi dan internet seperti saat ini? Menurut saya, hal ini terjadi karena manusia tidak lagi mementingkan rasa kebersamaan mereka satu dengan yang lainnya. Manusia lebih memilih untuk menikmati pesatnya perkembangan zaman. Berfantasi ria di dunia maya, yang jelas sekali bahwa itu ‘maya’. Mungkin mereka lebih bebas mengekspresikan diri lewat tulisan, maka dari itu kemampuan menulis para remaja masih berada di atas rata-rata. Namun saat dihadapkan di kehidupan nyata, mereka yang sudah terbiasa berbicara melalui ketukan jari terhadap layar itu pun menjadi kikuk, dalam kecakapan berbicara secara spontanitas ini.
            Emily Drago, salah satu siswa Strategi Komunikasi di Universitas Elon, mengatakan bahwa “Teknologi secara negatif mempengaruhi komunikasi tatap muka. Orang-orang menjadi lebih bergantung pada berkomunikasi dengan teman dan keluarga melalui teknologi dan mengabaikan untuk terlibat secara pribadi, tanpa hambatan oleh ponsel dan perangkat, bahkan ketika benar-benar di hadapan orang lain.” Jadi memang banyak yang menganggap bahwa pesatnya perkembangan teknologi dan internet ini membawa dampak bagi orang-orang sekarang. Dan dampak yang saat ini dirasakan lebih banyak mengarah ke dampak negatifnya. Manusia menjadi lebih bergantung terhadap gadget untuk berkomunikasi, seakan manusia hanya tahu cara menuliskan kata di atas layar putih, seakan handphone adalah teman sejati manusia. Namun, hal ini tidak berlaku untuk setiap orang di dunia ini, masih banyak yang belum bisa menikmati teknologi. Akan tetapi banyak juga orang yang bisa membentengi diri mereka dari serangan negatif ini. Hanya dibutuhkan pribadi yang kuat yang masih mau untuk menolak segala kemewahan yang ditawarkan gadget masa kini, untuk tetap menjadi manusia selayaknya, yaitu manusia sebagai makhluk sosial.
“Dengan kemajuan teknologi yang secepat cahaya, manusia berubah dengan cepat, mungkin mustahil untuk memprediksi masa depan. Namun, semua orang harus menyadari bahwa interaksi manusia yang dulu dikenal mungkin sudah berubah selamanya.” – Emily Drago. Pada detik ini saja, teknologi dan internet masih dalam proses pengembangan dan perbaikan. Padahal pada tanggal 15 Februari 1946 silam, komputer baru pertama kali diciptakan, dan itupun sebesar ruangan. Seiring dengan berjalannya waktu, komputer menjadi lebih kecil dan lebih pintar. Pada tahun 1977, PC atau Personal Computer dikenalkan ke masyarakat. Lalu komputer berkembang menjadi sebuah telepon, lalu menjadi telepon genggam, atau handphone. Handphone  pertama kali diluncurkan pada tahun 1973, oleh Martin Cooper. Lalu dengan cepatnya smartphone mulai menguasai pasar perdagangan, setelah dikenalkannya pada tahun 1992. Diintegrasikan dengan internet, smartphone menjadi kebutuhan tersier yang seakan menjadi kebutuhan primer. Hal ini menunjukkan betapa cepatnya teknologi dan internet berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Kita tidak bisa memprediksi bagaimana nanti teknologi mengambil alih dunia kita. Dengan adanya perkembangan alat kounikasi, pola hidup dan pola pikir manusia ikut berubah. Dahulu, mau tidak mau manusia harus bertatap muka untuk berkomunikasi. Mereka harus berinteraksi dengan orang-orang disekitar mereka. Akan tetapi zaman yang modern telah mengubah segalanya. Maka dari itu cara berkomunikasi orang-orang terdahulu sangat berbeda dengan sekarang. Sekali lagi, kehidupan saat ini menjadi jauh lebih mudah dengan adanya teknologi dan internet.
“Kami telah menunjukkan model apa lagi interaksi tatap muka dapat lakukan," kata Greenfield. "Interaksi sosial dibutuhkan untuk mengembangkan keterampilan dalam memahami emosi orang lain." Tentu saja berkomunikasi secara langsung dan melibatkan diri dengan orang lain itu sangat berarti. Mereka dapat membaca gerak-gerik lawan bicaranya. Mereka juga akan dapat merasakah emosi dan perasaan yang diekspresikan oleh orang lain. Tanpa komunikasi face to face, manusia tidak akan peka terhadap kesan eksplisit yang diungkapkan orang. Menurut studi, manusia hanya membutuhkan 7% untuk kemampuan berbicaranya, sedangkan 93% yang lain adalah memahami emosi, perasaan, dan gerak-gerik dalam pesan yang disampaikan. Maka dari itu jika hanya layar putih dari handphone yang ditatap oleh masyarakat, mereka tidak akan peka lagi terhadap lingkungan sekitar mereka.
Menurut pendapat saya, teknlogi dan internet tidak perlu terdengar seburuk itu, semuanya hanya bergantung pada bagaimana setiap orang menyikapi dan menanggapinya. Semua tergantung pada manusianya, agar mereka tetap menjadi manusia yang selayaknya. Manusia yang masih memiliki sisi sosialnya yang bisa berinteraksi dengan  manusia lainnya. Maka dari itu, saya ingin mengajak masyarakat disekitar saya untuk lebih sadar akan teknologi. Bahwa kita bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin tanpa dijajah habis-habisan.
Menurut saya, perlu diadakan sebuah workshop atau sosialisasi besar-besaran untuk masyarakat, khususnya remaja. Masyarakat butuh disodorkan fakta dan bukti nyata bagaimana model manusia modern saat ini. Kita benar-benar butuh memanusiakan manusia modern, agar tidak lupa akan kodratnya sebagai makhluk sosial. Agar komunikasi tidak lagi menjadi sebuah penghalang dalam berinteraksi sesama manusia.
Jadi, pada intinya, teknologi yang canggih dan internet yang aksesnya mudah dapat mempengaruhi cara berinteraksi manusia zaman sekarang. Banyak yang terlahap olehnya lezatnya handphone ataupun smartphone. Namun kita sebagai makhluk sosial yang sudah tidak begitu sosial, harus berusaha untuk berinteraksi dengan orang disekitar kita, agar kembali ke kodratnya. Ngetrend boleh saja, asalkan paham akan waktu dan tempatnya saja. Mari kita letakkan handphone kita untuk komunikasi antar-manusia yang lebih baik. Mari kita menyadarkan diri sendiri dan orang lain, agar tidak terlarut dalam dunia maya. Mari kita memanusiakan manusia modern, untuk menjadi dunia yang lebih baik.

0 komentar:

Posting Komentar